Selasa, 23 Desember 2008

ALKISAH SI PENCARI CINTA


Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer... Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, "Wahai wanita, cintailah aku." Ih... nih anak, malu-maluin ya! Masa' sih sampe' gitu-gitu banget, ya...namanya juga pencari cinta bo!

Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. "Aku tak menyukai yang tenggelam," kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Semburat cahaya subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari mewayungi jagat raya ini, "Inikah dia yang kucari?" tanya beliau pula. Bukan...bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.

Ikhwah fillah rahimakumullah...

Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur'an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih...jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa' sih akal, nalar dan fikiran sampe' gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh...

Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa': 125].

Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran butir darah untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

Dari nenek moyang kita dulu, sampe' sekarang, buanyak buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki sebagaimana cinta mereka yang disebut 'manusia langit?'

Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela 'pasang badan' menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya? Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang berbisa itu.

Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta sejati, cinta hakiki yang mengharapkan ridho Illahi Rabbi.

Nah...sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a. atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta sejati?

Ya akhi wa ukhti,

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.

Kutahu pasti cinta-Mu dalam dan murni

Namun mengapa sulit untukku mendapatkan cinta dari-Mu

Hidupku ini terasa hampa dan sunyi

Tanpa belaian kasih sayang-Mu

Cintailah hamba-Mu ini Ya Allah ...

Allah ...

Leraikanlah segala beban di dunia ini

Hanya pada-Mu yang kuharap hanya cinta ikhlas-Mu

Merasuk ke dalam kalbu Allah dengarkanlah hamba-Mu

Allah ...

Dengarkanlah bisikan suara hatiku

Hapuskan noda dan dosa di kalbu

Hanya pada-Mu Agar aku dapat menggapai cinta-Mu

Cintaku pada-Mu ya Allah

MENANTI CINTA


Cinta itu seperti seseorang yang menunggu BIS. Sebuah bis datang, dan kau

bilang "wah...terlalu penuh, nggak bisa duduk nih! Aku tunggu bis berikutnya

saja, Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata,"Aduh

bisnya sudah tua dan jelek begini.... nggak mau ah...."

Bis selanjutnya datang, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewati

begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, kondisinya masih bagus,

tapi kamu bilang, "Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan", maka kamu

membiarkan bis keempat pergi. Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa

kamu bisa terlambat pergi kuliah. Ketika bis kelima datang, kamu langsung

melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.

Bis tersebut jurusannya bukan menuju kampusmu!!!

Pesan Moral:

Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar "ideal" untuk menjadi

pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan

kita. Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk "calon", tapi tidak ada

salahnya juga memberi kesempatan kepada bis yang berhenti di depan kita

(tentunya dengan jurusan yang kita inginkan).

Apabila ternyata memang "bis" itu tidak cocok, kita masih bisa berteriak,

"Kiri" dan keluar dari bis. Maka memberi kesempatan pada "bis",semuanya

bergantung pada keputusan kita. Daripada kita harus "jalan kaki menuju

kampus" dalam arti meneruskan hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi

Cerita ini juga berarti, kalau kita benar-benar menemukan bis yang "kosong

masih baru, dan ber-AC, dan tentunya sejurusan", kita harus berusaha sekuat

tenaga untuk memberhentikan bis tersebut dan masuk ke dalamnya, karena

menemukan bis seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan

sangat berarti, tapi tidak semua orang yang mendapatkannya

hidup

berjuanglah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan